Headlines News :

Kondom Bocor Sobek Ujungnya: SENI DAN SASTRA UNTUK PEMBEBASAN

Kondom Bocor Sobek Ujungnya "SENI DAN SASTRA UNTUK PEMBEBASAN"

Kondom Bocor Sobek Ujungnya merupakan suatu antologi kumpulan puisi dari sepuluh orang yang sangat jauh dari sebutan penyair, karena memang kebanyakan dari mereka bukan orang-orang yang fokus dalam menekuni dunia perpuisian atau kesusastraan, namun mereka adalah orang-orng yang memeiliki keberanian yang besar untuk menulis dan mempubikasikan puisi-puisi mereka ke dalam bentuk buku yang diberi judul Kondom Bocor Sobek Ujungnya. Di mana kemudian buku ini dibagi-bagikan secara gratis baik dalam bentuk buku cetak maupun dalam format PDF yang dapat di download gratis di blog Masyarakat Gerilyawan Kota.

-Pengatar pada Kondom Bocor Sobek Ujungnya:

SENI DAN SASTRA UNTUK PEMBEBASAN

Dipungkiri atau tidak, terlepas dari teori-teori, lepas dari aturan-aturan dan terlepas dari perkembangan zaman dan peradaban, berseni bagi kami pada dasarnya adalah suatu kesenangan dan sekaligus salah satu bentuk  pembebasan atau membebaskan diri dari segala macam tekanan yang datang dari dalam maupun luar, serta adalah media penyampaian dan bahwa seni adalah milik semua orang tanpa terkecuali. Begitu pula dengan bersastra atau menulis suatu karya satra, salah satunya adalah puisi.

Misalnya Wiji Thukul dengan puisi-puisinya yang bahkan  mampu menjadi motivasi serta semangat tersendiri pada aksi-aksi kawan aktivis dan mahasiswa serta semua orang yang bergerak menentang dan meruntuhkan pemerintahan Orde Baru dengan “Hanya ada satu kawan: Lawan!” (Puisi Peringatan), atau WS. Rendra yang kemudian dikenal dengan puisi-puisi pamfletnya. William Shakespeare dengan romantismenya dan  masih banyak lagi penyair-penyair Tanah Air maupun luar dari latar belakang yang berbeda-beda yang berseni merangkai kata untuk menyampaikan sesuatu hal, baik dari dalam diri sendiri mau pun dari luar atau lingkungan sebagai makhluk sosial dengan berbagai tema, kondisi dan situasi.

Mereka adalah segelintir contoh orang-orang yang berhasil membebaskan diri, terutama untuk berseni merangkai kata atau berpuisi dan bahkan berhasil membebaskan orang lain secara
batiniah, seperti mampu memberi semangat, motivasi dan kepuasan ketika menikmati karya-karya mereka.
Lantas apa hanya penyair yang menulis puisi? Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti inilah yang terkadang membelenggu dan membatasi kreatifitas seseorang dalam berkarya, seseorang seringkali terjebak dalam pemikirannya sendiri, sebab bukan penyair maka tidak menulis puisi, sebab bukan pematung maka tidak membuat patung, sebab bukan pelukis maka tidak melukis, dan cenderung membuat batasan-batasan bagi diri sendiri. Selain itu pola pikir yang dididik dan dipengaruhi lingkungan dengan persepsi-persepsi yang terkadang memandang suatu bentuk hasil suatu karya adalah subyektif  yang sebenarnya adalah obyektif.

Dan kembali pada hakekatnya, berseni dan bersastra itu bebas, bebas memaknai dan bebas berkarya. Dari itu semua orang wajib bebas dari batasan-batasan dari dalam mau pun luar diri untuk berseni dan berkarya.
Berangkat dari pemahaman sederhana ini, kami dengan segala kekurangan dan dengan segenap keberanian serta rasa percaya diri yang mungkin sebenarnya terlalu berlebihan dan dengan keyakinan yang umum sebab yang terpenting adalah proses, maka kami memulai, maka kami berkarya, kami bebaskan diri kami, dan bersepakat untuk membukkukan kumpulan puisi-puisi kami yang kami beri judul “Kondom Bocor Sobek Ujungnya”.

Mengapa “Kondom Bocor Sobek Ujungnya”?

Begini sedikit penjelasannya : Kondom adalah alat kontrasepsi keluarga berencana yang terbuat dari karet dan pemakaiannya dilakukan dengan cara disarungkan pada kelamin laki-laki ketika akan bersenggama. Kondom di sini adalah batasan-batasan yang kami sarungkan dan kami ciptakan pada diri sendiri yang sebenarnya justru menghancurkan rencana-rencana kami, seringkali karena sangat elastisnya tanpa kami sadari telah membunuh kreatifitas kami sendiri. Sehingga alat kontrasepsi ini harus dibuka alias tidak disarungkan lagi pada kuasa nafsu kebodohan dan ketololan pada diri kami semua, yang seharusnya bebas bersenggama dengan kreatifitas dalam kehidupan kami secara berkeadilan tentu saja. Atau adalah untuk menerabas batasan-batasan dan tidak membatas-batasi diri sendiri.

Bocor adalah pertama, berlubang sehingga air dan udara dapat keluar atau masuk; atau tiris, kedua tersiar sedikit-sedikit (tentang rahasia dan sebagainya), ketiga, adalah kerap kali buang air; keempat adalah mengeluarkan darah. Dan kami tentu saja memang sengaja membocorkan atau menjadi bocor agar kami tidak sakit perut, sesak nafas dan sakit kepala dalam berkreatifitas dan menyampaikan sesuatu hal. Sehingga kami bebas dan merdeka tanpa adanya pengkotak-kotakan atau apalagi sampai memenjarakan kreasi dan agar kami terus dapat bersirkulasi dan berproses.

Sedangkan Sobek adalah cabik, robek, atau koyak. Dan Ujung yaitu bagian penghabisan, puncak, akhir atau maksud dan tujuan. Yang di sini adalah sebuah harapan atau keinginan agar dengan buku kumpulan puisi ini kami dapat turut membantu menyobek batasan-batasan pada orang lain atau dengan keinginan bisa sedikit memotivasi bahwa untuk melakukan sesuatu, terutama berkreatifitas, semua orang tanpa terkecuali memiliki hak dan kebebasan yang sama, dan itu harga mati. Titik!.

Akhirnya, menjadi penting atau tidak penjelasan ini, semoga bisa dinikmati. Jika berkenan dan berlapang dada silahkan dibaca, dikritik habis-habisan, disimpan dan disebarkan. Jika tidak berkenan, silakan buku antologi puisi ini dikilokan sebagai barang loakan, didaurulang atau setidak-tidaknya diwariskan kepada orang lain yang mungkin penasaran, meskipun akhirnya juga akan bersikap sama, sakit perut, sakit kepala dan barangkali muntah. Maka, mari berkondom bocor sobek ujungnya, berseni dan bersastra untuk pembebasan diri dan berkeadilan sosial!

                                                                                                                       MaGenTa

Umpu Prahara

 Sunset

 Bunga

 Terkurung
 
Bermain Becek

Puisi-puisi [Umpu Prahara]

Senja

Semburat senja bergayut di ufuk barat
Burung pulang ke sarang
Ombak berdebur menghantam karang
Kelapa jatuh bergelundung
Kesedihan hanyalah semu
Kesenangan adalah kesombongan
Angkuhmu adalah pertanda
Tawamu adalah malapetaka

Padang, Menjelang senja menjemput Malam
20042012

Anakku

Tidurlah anakku,
Akan kuceritakan dalam tidurmu asiknya bermain gobak sodor 
yang sekarang berganti dengan asiknya main playstation

Tidurlah anakku,
akan kuceritakan dalam dengkuru tentang bedil gedebog pisang
yang sekarang telah berganti airsoft gun

Tidurlah anakku,
Akan kuceritakan dalam mimpimu tentang mobil kayu
yang sekarang berganti dengan mobil remote control

Tidurlah anakku,
Akan uceritakan dalam igauanmu tentang tanah liat
yang telah bergantin dengan paving block

Tidurlah anakku,
Akan kuceritakan dalam harapmu tentang sebuah masa di masa lalu

yang tak pernah kau temi dimasamu kini.

Padang - Painan, 06 Agustus 2012


Menang

Memuncak sepi ditengah riuh
Kemenangan...
Kemenangan yang apa?
Kemenangan dari apa?
Kemenangan siapa?
Pesta pora yang aneh
Tangisan dikelilingi bahak tawa
Arti hilang berganti makna

Gadut, 16 Agustus 2012


Sayangku

Sayangku,
Aku tak hendak bercerita tentang indahnya hutan dan pepohonan
sebab hutan dan pepohonan telah habis dimangsa buldoser dan
menjadi lembaran kertas belajar anak bangsa

Sayangku,
Aku tak hendak bercerita tentang eloknya ikan yang berenang lincah kesana kemari 
sebab ikan-ikan telah mati di bom oleh kapal pukat harimau dan dimasukkan
dalam kaleng di supermarket

Sayangku,
Aku tak hendak bercerita tentang sawah yang luas dan padi yang menguning
sebab disawah telah tumbuh gedung tinggi dan apartemen yang mewah

Sayangku,
Aku tak hendak bercerita tentang gunung yang biru menjulang
sebab biru sudah menjadi coklat dan pohon telah menjadi korek api  

Sayangku,
Aku tak hendak bercerita tentang sunset di pantai atau sunrise di puncak gunung
sebab pantai telah menjadi tumpukan sampah dan puncak gunung telah gundul

Sayangku,
Aku hanya bisa bercerita tentang kita, tentang keindahan harapan, tentang keindahan
masa lalu, tentang masa depan, tentang aku, kamu dan anak-anak kita

Mato Air, 06 Agustus 2012


Tuhan

Aku melihat Tuhan di cermin

Gadut, 17 Agustus 2012


Kondom [Reski Kuantan]

Kondom [Reski Kuantan]
Kondom: [oleh: Reski Kuantan]

Tuhan Telah Tiada [Reski Kuantan]


Oleh: Reski kuantan

Jam di handphone saya hampir menunjukan pukul 18.15,  ketika itu hujan lebat. Di sebuah halte, bersesakkan dengan peteduh lain dan seseorang yang saya lupa bagaimana bentuk badan dan wajahnya. Seseorang itu, ia berdiri paling sudut, di kanan dari saya, melihat jauh ke arah langit, kemudian sesekali ia menunduk sembari terus terisak dan air terus mengalir dari matanya yang bening dan basah.
Saya lalu memperhatikan orang-orang di sekitar, semua gusar menunggu hujan reda dan raut-raut wajah mereka jelas kian gundah. Tak seorangpun memperhatikan seseorang yang terisak di sudut sana, kecuali saya. Mulai pertanyaan-pertanyaan dan rasa penasaran bermunculan dalam pikiran saya. Kenapa atau siapa ia? Misalnya.
Tak cukup berpikir lama, saya mendekati seseorang tersebut dan memilih untuk berdiri tepat di sampingnya dan melihat ke arah yang sama denganya. Ia sebentar melirik ke arah saya lalu kembali melihat langit.
“Tuhan telah tiada”
Samar-samar, seperti berbisik dan serak, ia bicara, entah pada siapa.
“Tuhan telah tiada”
Ia kembali bicara, lebih lantang namun tetap serak, sembari  melirik ke arah saya sebelum kemudian ia kembali melihat langit.
Saya lalu memberanikan diri menatap orang tersebut,  saya lupa bagaimana bentuk badan dan wajahnya, tapi matanya benar-benar bening, dan basah.
“Tuhan telah tiada”
 Kali ini ia bicara sembari benar-benar menatap saya, menatap mata saya. Matanya yang benar-benar bening dan basah seolah-olah hendak menerkam atau mungkin seperti hendak mencabik-cabik mata saya. Tiba-tiba perasaan saya menjadi campur aduk, iba, bingung, atau mungkin takut, atau juga mungkin saya tidak bisa  jelaskan secara detail bagaimana perasaan yang saya alami ketika itu.
Sejenak kemudian ia sangat diam sembari masih menatap mata saya sebelum kemudian kembali manatap langit.
“Lihat, itu bukan hujan, itu bukan hujan” Ia kembali bicara, samar-samar dan serak “Tapi malaikat, malaikat-malaikat di atas sana sedang berduka”. Kemudian ia kembali terdiam “Lihat, itu bukan hujan, itu bukan hujan, itu air mata duka malaikat-malaikat di atas sana, itu air mata duka. Tuhan telah tiada. Tuhan telah tiada”. Sambungnya.
Ingin rasanya saya memeluk seseorang itu, memeluk dengan erat. Tapi siapa orang ini?
“Saya bukan orang gila” katanya sembari kembali menatap tajam ke arah saya, ia seolah bisa membaca pertanyaan-pertanyaan dalam hati dan pikiran saya.
“Saya malaikat” lalu katanya “dan Tuhan telah tiada. Tuhan telah tiada”
Lalu, sejenak kembali ia terdiam dan matanya yang benar-benar bening dan basah, ah, gila, entah kenapa saya malah seperti terpengaruh dengan seseorang itu, sebelum kemudian ia kembali bicara.
“Lihat, lihat orang-orang, lihat orang-orang” suaranya begitu gemetar dan tertahan “orang-orang telah punya tuhan-tuhan baru, mereka menciptakan tuhan-tuhannya sendiri, tuhannya adalah televisi, gengsi, teknologi, uang, jabatan, kekuasaan, pekerjaan, makan, pusat perbelanjaan dan mungkin juga tulisan-tulisan, cerpen atau puisi” dan kembali menatap mata saya, sangat lekat.
Tiba-tiba kemudian saya merasa sangat dingin, basah dan, dan, dan sangat kotor. Sebuah bus kota melintas dengan kencang dan mengguyurkan air yang tergenang di pinggir jalan ke arah saya. Dalam hati saya menggerutu, mungkin kebiasaan ngelamun dan berkhayal saya yang akut sudah saatnya dibasmi. Hujan telah sejak lama kiranya reda dan bus itu adalah bus terakhir arah ke rumah, terpaksa deh saya naik ojek dan mahal!



Puisi-puisi [Arther Panther Olii]

Teratai Putih
: Arganita Widawati 


Perihal kepatuhan pada bening telaga
Kelopak-kelopak yang tak kusut berjaga-jaga
Dari kejatuhan embun yang bukan pilihan
Hati sementara menduga: Ia kah masa depan?

Nirwana di teduh mata Bunda
Angsa-angsa yang terus bernyanyi gundah
Telah lama bidadari tak datang membagi wangi
Sementara lompatan katak kian tinggi

Teratai putih o teratai putih
Dari rindu-rindu ungu Bunda
Di setiap mekarnya seutuh jiwa rasai perih
Tersering menunggu lebih baik dari sekedar menunda

Yang datang kemudian masih rerupa janji
Kemana harus lingkaran kenangan tersaji
Terus teruslah Bunda menulis puisi
Sebelum esok hadir sebagai ilusi


Manado, 04092012.


Pesan Sebutir Pasir


: Fatih Kudus Jaelani

Kepada yang menuliskanku dalam puisi. Adalah kenangan yang angin- mendera sekujur jiwaku-. Pertemuan dilekatkan senja. Ditautkan malam. Rindu yang terus menjulur mencari ujung paling sinaran.Pendaran bayangku bukanlah alasan sendiri. Diri selalu menunjuk satu bintang. Mengerjap bebuih yang terjemahkan perih. Lirih, sungguh lirih subuh berbisik pada lelap.

Sehingga diketahuilah olehmu sebuah akhir. Embun yang membaui diri, menciptakan harapan dari setiap tatapan. Dimana kau berdiri sekarang? Datanglah menepi pada kepastian. Kesiasiaan akan merajuk. Menjauhi niscaya mentari. Menarilah sepenuh peluh. Dan suluh akan rubuh di sekujur tubuhmu. Menjadi puisi. Menjadi nama yang kepadanya dilekatkan angan dan segenap rindu.

Manado, 31082012.


Kepada Aku, 2


Tentang sepi yang melarut di sepanjang tubuh waktu
Kalender yang lengser dari dinding, dari meja
Mengeja keinginan-keinginan yang dingin

Kepada aku, nama dengan aksara penuh racauan
Setelah G menjadi puisi, menemu pembaca yang mengkritisi
Maka, apalah yang hendak kumaknai dari H
Kiranya bukan penanda kehancuran

Aku, akuilah kehilangan
Warna senja yang selalu dirindu
Alamat pulang yang gegas dituju

Tentang sendiri yang menghanyutkan angan
Kenangan jadi lusuh bagi si sulung
Dimana berkibar bayang-bayang baru?
Mestinya langkah setia bersisian cahaya

Kepada aku, kepada nama yang disebut sepenuh kasih
Ibu mengerjap senyap di kedua lengannya
Berharap bukan ananda yang seharusnya rebah
Di sana, menjadi diri yang memahami tabah

Manado, Agustus 2012.


Perihal Kedatangan, Kepergian dan Rindu


: Reski Kuantan

Perihal kedatangan, sudah pernah kau katakan. Sekawanan kata hadir, lantas lembaran kertas dipenuhi puisipuisi bermakna kesetiaan. Ada tahun yang sembunyi di pulau jauh. Dan tibatiba yang membayang adalah wajahmu. Tetap bersahaja. Serupa warna senja di garis pantai kenangan.

Perihal kepergian, sudah pernah kau tuturkan. Ada lambaian tangan, lalu hembus angin membawa pesanpesan bernada kecemasan. Ada musim yang menghilang di negeri seberang. Dan sekonyongkonyong yang mencuat adalah jejakmu. Masih menghentak. Selayaknya cahaya malam di titik padang ingatan.

Perihal kepergian, perihal kedatangan adalah perihal rindu. Sudah kusalin semuanya. Kelak, kau akan membacanya, dalam sepasang mataku yang begitu tabah menampung ikhlas.

Manado, 07052012.


Arther Panther Olii: Lahir di Manado pada tanggal tujuh Agustus, senng membaca beragam buku sejak SD dan mulai menyukai puisi sejak SMP, hingga saat ini tulisan-tulisanya telah tergabung dalam berbagai Anotologi Bersama dan terbit di berbagai media cetak.
 

-

Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Media Seni dan Sastra Online - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger