Headlines News :
Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Puisi-puisi [Riona]



November Rain
 
Hari ini hari ketiga di bulan November
Bulan yang seharusnya dapat membuatku bahagia
Karena bulan ini merupakan bulan kehadiranku
Kehadiranku di muka bumi ini
Tetapi apa yang kudapati dan kutemui
Hanyalah seonggok sisa-sisa dari pesta malam tadi

Bagai sebuah roman klasik karya Shakespeare
Yang bercerita tentang kisah cinta dua orang anak Adam
yang tak pernah dapat bersatu dalam pelukan asmara
yang malam ini ditayangkan dalam sebuah televisi swasta.

Hujan yang tercurah dari langit di bulan November
Membuat dingin malam ini
Sedingin hatiku yang telah membeku dan membatu
Bagai air yang telah mengeras menjadi es

Pencarianku tak pernah berakhir
Penantianku tak pernah berujung
Bagai sebuah roman sejarah karya Mochtar Lubis
“Jalan Tak Ada Ujung”

Cherry House. 03 Nov 03. 21.45 WIB 




 Riona lahir dan besar di Lampung. Seorang pecinta segala macam sastra dan segala macam seni. Bercita-cita menjadi seorang yang akan merubah dunia.

Puisi-puisi [Ayusia S. Kusuma]

Kepada Yang Terlarang

jika harus kupelajari cara-cara membunuh
setiap ejaan peristiwa yang lancang kubuat denganmu
maka aku menemu cara paling sederhana
yaitu menumbuhkan kebencian dan segala yang memuakkan tentangmu, sayang
setelahnya, mungkin akan kuhapuskan ingatan atau kukosongkan pikiran

mungkin saja sebagai pion kecil
telah lena kutangkap pelbagai isyarat dari tanda-tanda bahaya.
jika akhirnya aku terpedaya dan tak pandai menyembunyikan lelakon
paling tidak aku telah pandai mengutukmu
dari setiap sudut lipatan pikiran ketika setiap ingatan tentangmu muncul

keterlarangan ini hanya soal,
bagaimana menjadi berani dalam ketakutan yang mengada-ada,
bagaimana kewarasan hilang tanpa tahu cara mengembalikannya
terlanjur terlarungnya harga diri dan robeknya segala norma
saat realita terabaikan dan kehormatan menjadi tak berguna
bahkan mengalami angan-angan yang paling kelam dan nista untukmu

pada akhirnya
aku tak harus memilih
menjadi siapapun atau apapun padamu
sebab bukan aku yang akan kita hancurkan, melainkan engkau setan dan segala ilusi tentangmu!

Jum'at 07012011


Ada Yang Bersyukur

Ada yang bersyukur, dalam sederhana
Meski hadirnya tak hanya sederhana
Seperti tetes embun tiap pagi menyentuhi dedaunan
Atau hewanhewan kecil hidup dari sampah, beranakpinak di tanah
Lalu dengan cara tak mereka ketahui,tanah menjadi gembur
Bebijian tumbuh, kelak menjadi pohon kokoh dan berbuah,
Ada yang bersyukur

Burungburung asyik bercengkrama di atas pohon
Sekejap kemudian terbang demi mendengar tembakan berbunyi
Lalu merelakan pasangannya mati untuk lauk malam nanti,
Ada yang bersyukur

Di sungai kotor anakanak berenang dan tertawa tak peduli,
Para petani tiap subuh ke sawah dan puas, meski beras hanya cukup dimakan sendiri,
Ibuibu selalu menggendong anaknya ke pasar berjualan kacang,
Para buruh pulang larut demi uang lembur untuk beli sepatu anaknya,
Para alim terpekur sembahyang tiap malam dengan perut keroncongan,
Para mahasiswa berpuasa sebab uang dipakai berobat emak,
Para guru berpeluh mengayuh sepeda ketika mengajar di pedalaman,

Mereka yang sederhana, mereka yang bersyukur
Mereka yang bersyukur, mereka yang membuat sekelilingnya bersyukur
Mereka yang sederhana, hadirnya kencana
Lalu Tuhan tersenyum, bumi berputar,nafas mengalir,
Ada yang bersyukur

Malang, 11 sept 2012 


Jalan Terakhir

baik, aku menyerah
pada takdir yang menggariskan merah
pada darah

sudah, aku terima
pada susunan ayat yang mengalamatkan dosa pada neraka
dan menyanjung pahala dengan surga

segala yang tak kasatmata
masa depan yang tak terduga
atau masa lalu yang tak terlupa
kutitip pada yang Esa

baik, aku mengerti
sebab mimpi-mimpi bukan kurawat dengan ilusi
atau fantasi mustahil yang menjerat diri

kesadaran akan realita
lebih melahirkannya, nyata
selamat tinggal angkasa
aku lebih memilih berjalan laksana musafir pengelana

25 okt '10


Ayusia S. Kusuma adalah seorang dosen jurusan Hubungan Internasional di Univ. Muhammadiyah Malang. Seorang pecinta seni dan sastra sejak masih dibangku sekolah dasar.

Puisi-puisi [Fahrur Rozi Atma]

Nun

Nun, betapa kelemahanku tidak pernah sanggup
menandu cintamu, yang senyap
Lalu dalam ketidakberdayaan telah aku telentangkan
bulan sabit serta aku paku titik di atasnya

Dan. Oh, nun lihatlah lemahnya diriku
di sebelahnya, serupa joran yang kian lengkung

mengailmu



Sebuah Nama Di Tangkai Sajak

; Bundo Kanduang

Telah jauh rantau badan dari pangkuan
namun hatiku kian mukim ke jalanmu
bukit dada yang menyusuiku
lembah rahim yang menafasiku

Lepas pandang tak lagi selayang
namun sudah menerawang ke tikungan
yang telah menghantar aku sesat darimu

Lalu aku surutkan langkah
membalik arah ke tempat kau bertanam kenang
di ladang-ladang kala pagi
sampai rembang petang

untuk kepulanganku jelang malam
duhai, aku temui kerinduan merindang
pada halaman rumah yang murung
di bawahnya terserak buah nama-
namamu; Bundo

terlalu lalangkah aku darimu?

Oh, aku bersimpuh di pembaringanmu
mengunyah-kunyah bilangan jarak, untuk waktu
merapatkan pisah lewat tak berbilang
tangkai sajakku berbuah namamu



Sepisau Angin

Angin mendesaukan sepi
menjadi pisau
se-pisau-angin
melintang di leherku
sedang subuh telah pecah
oleh gaung kefakiran

Meminta syafa'atku pada suria
Usiamu masih belia! tegas penolakanya
Aku alihkan pada burung burung layang
sarangku masih lapar! tampik adalah jawabnya

Oh, pantaiku jauh, tempatku ke luas
ilalang ikut menari, hantarkan lentik kematian
di mataku: pantaskah aku menangis?
bila embun telah lebih dulu berjatuhan
membasahi tanah, tumbuhkan batubatu waktu
dipijakanku yang timpang

Perlahan lahan kian teriris urat tenggorakanku
sengau parau suaraku, berontak dari maklumat maut
bersebab lautku bukan di sini, dermaga tempat sampansampan logika
tersandar, untuk aku kayuh ke gelombang pasang
dimana aku bisa lepas dari tanya Mungkar-Nangkir

Keberadaanku di pegunungan
dengan se-pisau-angin meletakkan dingin
di apiku yang terakhir, tanpa siapa siapa
selain hati menjadi saksi

kematianku, berkabar ke tidur tidur mereka
lelap



Pijar Timur

 ; Afrilia Utami

Aku panggil kau timur yang jauh
dari mata, menggantung di angkasa
Dengan bahasa pagi
suara-suara yang meninggalkan pantai

Setelah beratus liris menggiris nadi
Ngilu mengucap namamu
Yang senantiasa bergelombang menerjang rindu
Yang aku tanam pada karang batu

sampai semua pergi membawa sepi simbol serta ramai angka-angka
berikut metafora yang berkelindan pulang
laut masih saja menaut langit sebagai paling
dari hal yang tak sampai

tak sampai, ah aku tinggalkan saja semua
lalu menuju goa-goa gunung untuk menyederhanakan huruf lantas jadi kata
semoga kau melambai

semoga, ya semoga, seperti doa
yang aku lafadz dalam kematian bahasa
dalam pandam, terendam angin
berulangkali mendiamkan semua. aku, mungkin juga kau



Rubaiyat Pagi

Dari ketinggian matahari
kita menyetubuhi bayang-bayang di ranjang waktu
Mushaf ke mushaf kehilangan cahaya
terkepung oleh bershaf-shaf hujan
yang turun dari mata
Dan di lembah Mungkar-Nangkir menghitung jarak
di puncak mana kita akan rubuh dalam rakaat terakhir
pada gentingnya temali tahiyat di antara dua mata tajam-
kata salam



Fahrur Rozi Atma. 2011-2012

Fahrur Rozi Atma:Penulis asal Pontianak ini pernah tergabung dalam Antologi Solidaritas Sastrawan Tiga rumpun Melayu [Indonesia, Malaysia dan Brunai Darussalam], Antologi Untuk Gempa Sumbar [2009], Antologi Munakat Sesayat Doa dan Antologi Kado Untuk Indonesia. 

Puisi-puisi [Kelana]

Sendiri

Kesendirian ini terasa hampa
Tanpa sebuah noda ataupun warna
Bias-bias warna yang kucari
Tak kunjung tiba

Hari terus berganti tanpa sebuah binar
Malam terus berjalan tanpa suara
Keriduanku akan dirimu terus menghantui
Mengganggu malam-malamku
Menyeruak kedalam hari-hariku
Mengembara kedalam benakku

Otakku berkelana kealam imajinasi
Mengharap engkau ada disini
Membelaiku, memelukku
mencumbuku dengan ciumanmu yang hangat
kemudian kita mengembara kealam khayal
berdua, bersama-sama kita terbang ke nirwana

tetapi yang kutemui hanyalah hampa
kehampaan yang kosong
bagaikan sebuah sumur yang tak berdasar
hanyalah lorong yang gelap dan panjang

Kucoba tuk merangkai
Serpihan-serpihan yang ada di dalam benakku
Dan kucoba tuk membentuk seraut wajahmu
Agar semua rasa rinduku terobati

Kubang. “Valentine Day”. 14 Februari 2004.


Pagi Ini

Pagi ini mendung kembali menggayut di angkasa
Kelam dan tebal menutupi sang raja langit
Seperti sebuah mitos pewayangan
Mitos yang menceritakan tentang raksasa yang sedang melahap matahari

Alam yang seharusnya terang benderang oleh senyum sang raja langit
Tetapi sekarang tampak gelap dan gulita
Seperti sebuah rongga yang tak berdasar
Yang ada hanyalah kelam

Kehidupan bagai sehelai daun yang gugur
Tak tahu akan dibawa kemana oleh sang bayu
Kehidupan bagaikan berjalan diatas mata pisau yang tajam
Tanpa beralas kaki

Kadang apa yang terjadi tak sesuai dengan apa yang terencana
Sang daun yang gugur berharap akan jatuh disebuah istana yang indah
Tetapi sang angin meniupnya sehingga jatuh disebuah sungai yang kotor
Penuh dengan segala macam kotoran yang ada dimuka bumi

Kadang aku bertanya pada Tuhan, adilkah semua ini ?
Sepadankah semua ini ?, sesuaikah semua ini ?
Tetapi Tuhan tetap diam seperti orang bisu
Aku terus bertanya dan bertanya tanpa kenal lelah dan kenal waktu

Tetapi apa yang kudapatkan
Yang kutemui hanya suara angin yang mendesau
Bisu dan kosong tanpa sebuah jawaban yang kucari
Ataukah selama ini kita salah, bahwa sebenarnya Tuhan itu tidak pernah ada?

Cherry House. 17 Nov 03. 08.00 WIB


Kelana : Seorang pemuda yang lahir dan besar di pulau Jawa danm belum pernah meninggalkan pulau Jawa. Bercita-cita memiliki sebuah grup band yang lain daripada yang lain.

Puisi-puisi [Miranti]

Jalan Jenderal Sudirman

Merdeka!

Teriak bocah itu sembari menghormati lampu merah kuning hijau yang mengatur gerak kenderaan kami sembari ia nyanyikan lagu duka.

Sementara aku sibuk mengacak laci mobilku yang mewah dan berAC, sebab lupa ke mana kubuang recehan sisa beli shampo untuk anjing penjaga rumahku.

Di bangku sebelah, istriku sendwawa dan tertawa setelah melahap bulat burger  dan meneguk sebotol besar cocacola hingga bibirnya merah, ah, ia memancing gairah, ingatan kami selalu ranjang dan desah.

12 sep 2012


Cerita Anak Dalam


Rumah kami kebun yang luas, kami memeliki macam-macam binatang, setiap pagi burung-burung menyanyi riang, monyet-monyet dari batang-ke batang bergelantungan, sungai-sungai mengandung ragam ikan, ini syurga, setidaknya menedekati syurga, atau sedikit banyak bisalah disebut seperti syurga, sebab semua serba ada dan kami tak perlu membeli apa-apa, sebelum pabrik itu ada!

13 sep 2012


Kapal


Bisakah kau temukan tepi di dadaku?

14 sep 2012


Kamarku


Aku kentut dalam kamarku yang pengap, aku jadi mengerti, beginilah rasanya orang ketika mencium kentutku, aku pun mual terhadap diriku sendiri.

14 sep 2012


Sungai


Sungai itu di musim kemarau, air yang bening dan segar, mengalir deras ke dalam pabrik, di TV kami saksikan air dari tanah negeri kami di dalam botol kemasan, bebas bakteri dan kau harus membeli!

14 sep 2012



Miranti: Gadis imut yang saat ini masih duduk di kelas 2 SMA di salah satu sekolah di Pekanbaru, ingin serius menjadi penulis, terutama dibidang puisi, aktif menulis di mading sekolah dan di beberapa portal sastra internet, telah menjadi penggemar berat puisi puisi si Burung Merak sejak pertama kali mengenal puisi.



Puisi-puisi [Mahdi Amir]

Dalam Puisi

kita bertemu
aku menjadi kau
kau menjadi aku
kita lenyap dalam aksara

Indonesia 07/09/2012



Api Dan Kayu

lidahku api
bibirmu kayu
kita asap yang membumbung
dari tungku ibu

Indonesia 07/09/2012


Kekasih

malam datang
berdentang seperti jarum jam di dinding itu
pukul tujuh tiga puluh katanya
dan di luar hujan
di dalam rinduku membara

aku tak tahu
ini gigil atau entah
jalan mana yang kau tempuh menuju rumahku?

Indonesia 07/09/2012



 


Mahdi Amir: Lahir dan besar di Indonesia, bercita-cita hingga wafat akan tetap di Indonesia.

Puisi-puisi [Umpu Prahara]

Senja

Semburat senja bergayut di ufuk barat
Burung pulang ke sarang
Ombak berdebur menghantam karang
Kelapa jatuh bergelundung
Kesedihan hanyalah semu
Kesenangan adalah kesombongan
Angkuhmu adalah pertanda
Tawamu adalah malapetaka

Padang, Menjelang senja menjemput Malam
20042012

Anakku

Tidurlah anakku,
Akan kuceritakan dalam tidurmu asiknya bermain gobak sodor 
yang sekarang berganti dengan asiknya main playstation

Tidurlah anakku,
akan kuceritakan dalam dengkuru tentang bedil gedebog pisang
yang sekarang telah berganti airsoft gun

Tidurlah anakku,
Akan kuceritakan dalam mimpimu tentang mobil kayu
yang sekarang berganti dengan mobil remote control

Tidurlah anakku,
Akan uceritakan dalam igauanmu tentang tanah liat
yang telah bergantin dengan paving block

Tidurlah anakku,
Akan kuceritakan dalam harapmu tentang sebuah masa di masa lalu

yang tak pernah kau temi dimasamu kini.

Padang - Painan, 06 Agustus 2012


Menang

Memuncak sepi ditengah riuh
Kemenangan...
Kemenangan yang apa?
Kemenangan dari apa?
Kemenangan siapa?
Pesta pora yang aneh
Tangisan dikelilingi bahak tawa
Arti hilang berganti makna

Gadut, 16 Agustus 2012


Sayangku

Sayangku,
Aku tak hendak bercerita tentang indahnya hutan dan pepohonan
sebab hutan dan pepohonan telah habis dimangsa buldoser dan
menjadi lembaran kertas belajar anak bangsa

Sayangku,
Aku tak hendak bercerita tentang eloknya ikan yang berenang lincah kesana kemari 
sebab ikan-ikan telah mati di bom oleh kapal pukat harimau dan dimasukkan
dalam kaleng di supermarket

Sayangku,
Aku tak hendak bercerita tentang sawah yang luas dan padi yang menguning
sebab disawah telah tumbuh gedung tinggi dan apartemen yang mewah

Sayangku,
Aku tak hendak bercerita tentang gunung yang biru menjulang
sebab biru sudah menjadi coklat dan pohon telah menjadi korek api  

Sayangku,
Aku tak hendak bercerita tentang sunset di pantai atau sunrise di puncak gunung
sebab pantai telah menjadi tumpukan sampah dan puncak gunung telah gundul

Sayangku,
Aku hanya bisa bercerita tentang kita, tentang keindahan harapan, tentang keindahan
masa lalu, tentang masa depan, tentang aku, kamu dan anak-anak kita

Mato Air, 06 Agustus 2012


Tuhan

Aku melihat Tuhan di cermin

Gadut, 17 Agustus 2012


Puisi-puisi [Arther Panther Olii]

Teratai Putih
: Arganita Widawati 


Perihal kepatuhan pada bening telaga
Kelopak-kelopak yang tak kusut berjaga-jaga
Dari kejatuhan embun yang bukan pilihan
Hati sementara menduga: Ia kah masa depan?

Nirwana di teduh mata Bunda
Angsa-angsa yang terus bernyanyi gundah
Telah lama bidadari tak datang membagi wangi
Sementara lompatan katak kian tinggi

Teratai putih o teratai putih
Dari rindu-rindu ungu Bunda
Di setiap mekarnya seutuh jiwa rasai perih
Tersering menunggu lebih baik dari sekedar menunda

Yang datang kemudian masih rerupa janji
Kemana harus lingkaran kenangan tersaji
Terus teruslah Bunda menulis puisi
Sebelum esok hadir sebagai ilusi


Manado, 04092012.


Pesan Sebutir Pasir


: Fatih Kudus Jaelani

Kepada yang menuliskanku dalam puisi. Adalah kenangan yang angin- mendera sekujur jiwaku-. Pertemuan dilekatkan senja. Ditautkan malam. Rindu yang terus menjulur mencari ujung paling sinaran.Pendaran bayangku bukanlah alasan sendiri. Diri selalu menunjuk satu bintang. Mengerjap bebuih yang terjemahkan perih. Lirih, sungguh lirih subuh berbisik pada lelap.

Sehingga diketahuilah olehmu sebuah akhir. Embun yang membaui diri, menciptakan harapan dari setiap tatapan. Dimana kau berdiri sekarang? Datanglah menepi pada kepastian. Kesiasiaan akan merajuk. Menjauhi niscaya mentari. Menarilah sepenuh peluh. Dan suluh akan rubuh di sekujur tubuhmu. Menjadi puisi. Menjadi nama yang kepadanya dilekatkan angan dan segenap rindu.

Manado, 31082012.


Kepada Aku, 2


Tentang sepi yang melarut di sepanjang tubuh waktu
Kalender yang lengser dari dinding, dari meja
Mengeja keinginan-keinginan yang dingin

Kepada aku, nama dengan aksara penuh racauan
Setelah G menjadi puisi, menemu pembaca yang mengkritisi
Maka, apalah yang hendak kumaknai dari H
Kiranya bukan penanda kehancuran

Aku, akuilah kehilangan
Warna senja yang selalu dirindu
Alamat pulang yang gegas dituju

Tentang sendiri yang menghanyutkan angan
Kenangan jadi lusuh bagi si sulung
Dimana berkibar bayang-bayang baru?
Mestinya langkah setia bersisian cahaya

Kepada aku, kepada nama yang disebut sepenuh kasih
Ibu mengerjap senyap di kedua lengannya
Berharap bukan ananda yang seharusnya rebah
Di sana, menjadi diri yang memahami tabah

Manado, Agustus 2012.


Perihal Kedatangan, Kepergian dan Rindu


: Reski Kuantan

Perihal kedatangan, sudah pernah kau katakan. Sekawanan kata hadir, lantas lembaran kertas dipenuhi puisipuisi bermakna kesetiaan. Ada tahun yang sembunyi di pulau jauh. Dan tibatiba yang membayang adalah wajahmu. Tetap bersahaja. Serupa warna senja di garis pantai kenangan.

Perihal kepergian, sudah pernah kau tuturkan. Ada lambaian tangan, lalu hembus angin membawa pesanpesan bernada kecemasan. Ada musim yang menghilang di negeri seberang. Dan sekonyongkonyong yang mencuat adalah jejakmu. Masih menghentak. Selayaknya cahaya malam di titik padang ingatan.

Perihal kepergian, perihal kedatangan adalah perihal rindu. Sudah kusalin semuanya. Kelak, kau akan membacanya, dalam sepasang mataku yang begitu tabah menampung ikhlas.

Manado, 07052012.


Arther Panther Olii: Lahir di Manado pada tanggal tujuh Agustus, senng membaca beragam buku sejak SD dan mulai menyukai puisi sejak SMP, hingga saat ini tulisan-tulisanya telah tergabung dalam berbagai Anotologi Bersama dan terbit di berbagai media cetak.

Puisi-puisi [Joey Rose]


Sajak Mabuk

...semua orang sibuk...
...aku malah ngantuk...

...semua orang suntuk...
...aku malah sumuk...

...semua orang ngamuk...
...aku malah mabuk...

Aku mabuk Engkau,
datanglah,
rengkuh aku sekarang juga!!!

Bukit Karamunting, 23082010, 12:43



Al Faiz: Dengan Subuh dan Di bawah Gerimis Aku Bersaksi
(Razaq Akbar Faiz, sebab aku selalu merindukanmu)

Al Faiz…
dengan subuh,
dan di bawah gerimis,
aku bersaksi:

Subuh adalah kesadaran
segala permulaan
rentang kehidupan
rancang kemenangan
bangun kekuatan
raih kemerdekaan.

Dengan subuh
bangunkan tubuh
sekaligus rubuh
lawan keluh
nyalakan suluh.

Refuge in the Lord of mankind
The Sovereign of mankind
The God of mankind
From the evil of the retreating whisperer
Whispers [evil] into the breasts of mankind
Among the jinn and mankind*.

Di bawah gerimis
hamburkan tangis
cinta kukais
perkuat baris
lawan iblis
tantang bengis
kezaliman terkikis

Menjadi Al Faiz.

Padang, 11 September 2011, 05.00-06.00
*Surat Annas dari Al Quran.

Untuk kedua orangtuaku, untuk istriku dan anak-anakku, untuk keluarga besarku, untuk sahabat-sahabat spiritualku, untuk kawan-kawan seperjuanganku, untuk seluruh manusia dan kemanusiaanku, dan untuk Tuhanku.





Sajak Untuk Nenek (Selamat Jalan Nek)

I
Aku bosan dengan keluhan
Takkan selesai persoalan
Sebab hidup mencari jawaban

II
Meski mati harus temukan
Titik sempurna keabadian
Satukan manusia dengan Tuhan

Padang, 14 November 2010.


Joey Rose Lahir di Ambarawa 20 mei 1980, menulis puisi sejak kecil dan saat kelas lima SD puisinya pernah dimuat di tabloid anak "Citra", dan pernah juga dimuat di antologi bersama "Dian Sastro For President!: End of Trilogy" [Februari 2005], juga Antologi bersama "Kondom Bocor Sobek Ujungnya" [Magneta Publishing] dan beberapa tulisan di media cetak lainnya.



Puisi-puisi [Alfikry Ilmi]

Pada Tanah Kelahiran

pada suatu waktu yang entah
aku akan pergi menghapus segala jejak kaki di tubuhmu
ijinkan aku menempuh ribuan kilo jauh dari pandangmu
ijinkan aku menjadi lelaki
ijinkan aku tepati janji
ijinkan mencoba peruntungan dari beberapa kemungkinan
dan ijinkan aku mengingatmu dalam kenang
karena kelak jika sudah sampai waktu
aku akan kembali lagi ke pelukanmu
membawa nyala api atau ditikam sepi berkali-kali

Padang, 6 Mei 2011


Nostalgia Ramadhan

Tidurlah.
Besok sehabis Shubuh
kita bakar petasan
di samping orang pacaran

Pariaman, 1 Agustus 2011


Aku Ingin Tua Bersamamu
: Rahma Welly

Aku ingin tua bersamamu
menghabiskan waktu dalam rentang umur yang beruban

Berpetak umpet di keriput kulitmu
Bernostalgia ciuman pertama di bibirmu yang sudah kemarau
Berkaca pada matamu yang masih menyimpan masa lalu.

Aku ingin tua bersamamu
Menikmati early reggae atau soul di beranda
sambil memandangi kepulangan burung-burung dalam formasi menuju sarang
atau menikmati sunset,
sunset yang selalu membuatmu kagum atau gemetar.
Karena kau pikir masa depan tak pernah datang.

Aku ingin tua bersamamu
berdua kita tertawai masa sekarang.
Dan saat itu barangkali kita sudah pikun
tak terlalu ingat kapan pertama kali pandang kita bertemu.

Aku ingin tua bersamamu
masihkah kau ingin main ayunan di jenggotku?

Padang, 1 Juli 2011


Permintaan

nyamuk tidurlah
masih ada malam lain
bagimu mencoba peruntungan
menghisap darah

malam ini jangan
aku sudah terlalu lelah
dihisap
seharian

Padang, 22 Juni 2011


Jadi Cleopatra Semalam

Malam ini bulan ketakutan
bersembunyi di balik bangunan hotel bintang lima.
Kita di dalamnya
menikmati semangkuk kencan
setelah seribu panah rayuan kau lepaskan ke dadaku
usai makan malam.

Cleopatra-lah aku seketika
pasca mahkota janji-janji surga
kau letakkan di atas kepala.

Bangga atau mungkin juga tak sengaja
kau sempat bisikan
bahwa kita bisa berpesta berkat hasil penggelapan dana.
Tak ada yang merasa kehilangan
sebab fakta seketika dialihkan isu yang lebih menarik untuk disimak.
Melebihi candu sinetron rumah tangga dengan cerita membosankan penuh peran antagonis.

Kita pun lalu sama-sama tertawa
atas kemenangan.
Atas kepecundangan.
Serupa aku yang menertawai nasib sendiri
karena nikmat materi berlimpah begini
belum tentu kutemukan esok hari.

Jadi, kucumbui saja kemewahan ini sampai pagi
sampai gelas tak mau lagi dituangi vodka
sampai tubuh tak sanggup lagi dipacu
dan napas kita yang memburu
sama-sama membisu berhimpitan.

Bulan gigil yang ketakuan semalam sudah digusur garangnya matahari.
Kita berpisah di depan sebuah gang
setelah perempatan.
Barangkali kau langsung menuju pelukan anak istri yang setia menanti
kepulanganmu dari rapat luar kota.
Dan aku juga kembali pada kenyataan kontrakan 4x4 meter
dengan beberapa lembar uang ratusan
untuk menghapus semua bekas ciuman dan biaya perawatan badan.

Padang, 12 Januari 2011

Puisi-puisi [M. Ibrahim Ilyas]

Haiku Selamat Malam

senja menderai
di pantai pertemuan
menggumam muram

rinai menderas
kunang kunang menghilang
kelam membenang
sehelai sunyi
di langit jeruji
meruang mati

290812


Menjelang Hujan

perlu sejumlah luka dan mungkin beberapa dusta, tuba dan petaka. pertemuan menua, ikrar mengakar dan tangan membuhul mati. di dinihari, kunang-kunang menyimpan ranji nyeri.

seusai mimpi dan sentakannya, mawar beribu mekar dan fajar menggabak matamu. kau masih akan ke pantai? laut tak mengerti mengapa kau menangis.

2012


Haiku Selamat Pagi

menuai embun
tapak pagi menahun
sunyi menggurun

menggetar subuh
gigil sujud seluruh
ruku' menubuh
sebelum limit
langit matari terbit
kutulis pamit

290812




Menjelang Hujan
 
perlu sejumlah luka dan mungkin beberapa dusta, tuba dan petaka. pertemuan menua, ikrar mengakar dan tangan membuhul mati. di dinihari, kunang-kunang menyimpan ranji nyeri.

seusai mimpi dan sentakannya, mawar beribu mekar dan fajar menggabak matamu. kau masih akan ke pantai? laut tak mengerti mengapa kau menangis.

2012


Dinihari Ini

malam memberkas, mengekalkan jejak ziarah sejak beranda sampai ruang tengah. pintu dan jendela menutup jenguk. kau dan aku sudah mendaftar pamit, menyisakan beberapa kepingan puzzle dalam antrian sebagai debu. ya, masih kususun riwayat dan silsilah cahaya karena dendang kunang-kunang bersebab pagi.

dengarkah kelam mengetuk? padamkan semua nyala, biarkan langit menggelung dinihari di rambutmu.

2012
 
 

 

Puisi-puisi [Ayusia S. Kusuma]

Cinta Manusia Biasa

hingga telah aku beritakan
tentang segala bencana pernah menimpa
yang meluluhlantakkan perihal kesucian
dan damai dan indah yang manusia cari di mata manusia lain

sekecil ini lah nyali
yang pernah kubangun sekuat tenaga
hingga mungkin tak bersisa untuk kubungkus kado padamu
seperti tanda cinta si perawan yang malumalu
atau si perjaka yang bergumpalan binar mimpi dalam matanya
padanya, pada mereka
yang meminta harapan sederhana pada yang lain

mari kita pintal lagi dari awal
mungkin sisa tenaga ini masih cukup
menyurukkan kakiku pada persimpuhan padamu
maka segalanya akan kuhabiskan tiada bersisa
habis dan lalu kutemui abadi
maka harapan dan putus asa hampir mirip
sebab sama-sama menawarkan ilusi

260210


Tiga Dering Saja

cerita yang selalu berulang
ketika remah roti dan kerak nasi
aku sia-siakan di meja makan
segelas kopi sempat kuseduh
diantara dua mata menatapimu menjauh

kupegangi benda semacam penghubung bicara
antara aku yang sepi dan kau yang pergi
atau aku yang pergi dan kau yang sepi

kau diam
lalu dering pertama menghantar pesan tertulis
"hai, apa kabar?"

;seakan kalimat pembuka yang pendek dan telanjang itu asing pada dirinya sendiri
adakah basa-basi,
atau bertanya untuk berharap
bahwa..
"semoga kau baik-baik saja disana tanpa aku banyak bertanya dan kau banyak bercerita"

aku bungkam
namun sempat kupencet tuts lunak itu
dan dering kedua terbaca
"aku baik, kamu?"

lalu percakapan itu selesai setelah dering ketiga
"aku juga baik-baik saja."

aku tak kembali
menyentuh tuts
bercerita panjang padamu
tentang, mungkin saja kemarin aku sedang gundah dan ingin kau tenangkan
tadi pagi bisa saja, aku sempat terjatuh di tangga ketika hendak belanja
esok hari boleh jadi aku menghadapi hari paling berarti dalam bulan-bulan terakhir ini

kau juga tak kembali
bertanya atau bercerita yang sama
mulut kita terkunci
sedang kunci itu tidak ada padaku juga padamu
terpaku
pada dinding yang mencipta dirinya sendiri

barangkali hingga saat ini dan nanti
kita tak tahu bagaimana mengawali cerita
untuk mengakhirinya tanpa koma dan tanda tanya

Feb, 13 2010


Ah, Sama Saja!

saat fikir berkilat
di langitnya segala bisa tercipta
tak perlu ditemani bulan bintang atau kitab bercahaya
sebab ia melaju merangkumi siang malam
justru gelap membuatnya semakin terang
tak perlu dipagari kehati-hatian juga ketakutan
terlalu terbuka dia mengundang bahaya
sebab untuk apa otak tercipta?

aku disini saja mengintai
badai macam apa yang bisa merobohkanmu
benteng kokoh itu berwujud kemapanan
kekuasaan yang terlalu dekat padamu
terang membuat cemburu

kau sibuk mengurusi norma
bangsa ini terlalu bejat katamu
akhlak itu kataku,
bukan sebatas baju dan rok mbak bakul jamu
blues yang lupa dikancingkan
atau resleting yang macet di ujung celana

aku belajar akhlak dari paman petani
si pekerja keras yang menghidupi keluarga
demi anak sekolah dan istri hamil tua
meski padinya diharga sama dengan
uang yang kau sisipkan membeli viagra
atau gincu menor istri kedua
juga karaoke tiap malam bersama kolega

tenang kau sekarang
hidup mewah dan nyaman tak lagi impian
setelah dulu berkubang duka
kemiskinan yang pernah kau kutuk
sekarang turut kau kekalkan
pada dia yang dulu kau teriakkan ingin kau perjuangkan!

M'sia. 07 Feb 2010


Bagaimana Jika

bagaimana jika aku
menjadi sungai mengalir
deras saat hujan
susut bila kemarau
namun masih lembab di dasar hati

bagaimana bila aku
menjelma cenayang
terlalu dekat padamu
tapi tak pernah bisa kau kenali

bagaimana jika aku
memilih menjadi lantai dan batu
daripada jendela dan pintu terbuka
diam tak mengancam
bungkam mungkin dendam

bagaimana jika kita
menjadi manusia paling sederhana
tanpa menjadi apa dan siapa

dan bagaimana jika,
kita tak pernah sekalipun bertanya?
mungkin Tuhan menjadi tak banyak bersabda

26012010


Orasi Bungkam

disinikah tepi?
aku diam kau bungkam
aku rusuh engkau kisruh
aku remuk, kita ambruk?

terlalu lama kupelihara
dua dalam satu
aku dalam aku
kamu bukan aku
dan kita ibarat
tak bertanda baca
karena tak mungkin terbaca

rindu ketaklengkapan
yang takkan terlengkapi

disinikah tepi?

060110



 

-

Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Media Seni dan Sastra Online - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger