Headlines News :
Showing posts with label All. Show all posts
Showing posts with label All. Show all posts

Puisi-puisi [Riona]



November Rain
 
Hari ini hari ketiga di bulan November
Bulan yang seharusnya dapat membuatku bahagia
Karena bulan ini merupakan bulan kehadiranku
Kehadiranku di muka bumi ini
Tetapi apa yang kudapati dan kutemui
Hanyalah seonggok sisa-sisa dari pesta malam tadi

Bagai sebuah roman klasik karya Shakespeare
Yang bercerita tentang kisah cinta dua orang anak Adam
yang tak pernah dapat bersatu dalam pelukan asmara
yang malam ini ditayangkan dalam sebuah televisi swasta.

Hujan yang tercurah dari langit di bulan November
Membuat dingin malam ini
Sedingin hatiku yang telah membeku dan membatu
Bagai air yang telah mengeras menjadi es

Pencarianku tak pernah berakhir
Penantianku tak pernah berujung
Bagai sebuah roman sejarah karya Mochtar Lubis
“Jalan Tak Ada Ujung”

Cherry House. 03 Nov 03. 21.45 WIB 




 Riona lahir dan besar di Lampung. Seorang pecinta segala macam sastra dan segala macam seni. Bercita-cita menjadi seorang yang akan merubah dunia.

Puisi-puisi [Ayusia S. Kusuma]

Kepada Yang Terlarang

jika harus kupelajari cara-cara membunuh
setiap ejaan peristiwa yang lancang kubuat denganmu
maka aku menemu cara paling sederhana
yaitu menumbuhkan kebencian dan segala yang memuakkan tentangmu, sayang
setelahnya, mungkin akan kuhapuskan ingatan atau kukosongkan pikiran

mungkin saja sebagai pion kecil
telah lena kutangkap pelbagai isyarat dari tanda-tanda bahaya.
jika akhirnya aku terpedaya dan tak pandai menyembunyikan lelakon
paling tidak aku telah pandai mengutukmu
dari setiap sudut lipatan pikiran ketika setiap ingatan tentangmu muncul

keterlarangan ini hanya soal,
bagaimana menjadi berani dalam ketakutan yang mengada-ada,
bagaimana kewarasan hilang tanpa tahu cara mengembalikannya
terlanjur terlarungnya harga diri dan robeknya segala norma
saat realita terabaikan dan kehormatan menjadi tak berguna
bahkan mengalami angan-angan yang paling kelam dan nista untukmu

pada akhirnya
aku tak harus memilih
menjadi siapapun atau apapun padamu
sebab bukan aku yang akan kita hancurkan, melainkan engkau setan dan segala ilusi tentangmu!

Jum'at 07012011


Ada Yang Bersyukur

Ada yang bersyukur, dalam sederhana
Meski hadirnya tak hanya sederhana
Seperti tetes embun tiap pagi menyentuhi dedaunan
Atau hewanhewan kecil hidup dari sampah, beranakpinak di tanah
Lalu dengan cara tak mereka ketahui,tanah menjadi gembur
Bebijian tumbuh, kelak menjadi pohon kokoh dan berbuah,
Ada yang bersyukur

Burungburung asyik bercengkrama di atas pohon
Sekejap kemudian terbang demi mendengar tembakan berbunyi
Lalu merelakan pasangannya mati untuk lauk malam nanti,
Ada yang bersyukur

Di sungai kotor anakanak berenang dan tertawa tak peduli,
Para petani tiap subuh ke sawah dan puas, meski beras hanya cukup dimakan sendiri,
Ibuibu selalu menggendong anaknya ke pasar berjualan kacang,
Para buruh pulang larut demi uang lembur untuk beli sepatu anaknya,
Para alim terpekur sembahyang tiap malam dengan perut keroncongan,
Para mahasiswa berpuasa sebab uang dipakai berobat emak,
Para guru berpeluh mengayuh sepeda ketika mengajar di pedalaman,

Mereka yang sederhana, mereka yang bersyukur
Mereka yang bersyukur, mereka yang membuat sekelilingnya bersyukur
Mereka yang sederhana, hadirnya kencana
Lalu Tuhan tersenyum, bumi berputar,nafas mengalir,
Ada yang bersyukur

Malang, 11 sept 2012 


Jalan Terakhir

baik, aku menyerah
pada takdir yang menggariskan merah
pada darah

sudah, aku terima
pada susunan ayat yang mengalamatkan dosa pada neraka
dan menyanjung pahala dengan surga

segala yang tak kasatmata
masa depan yang tak terduga
atau masa lalu yang tak terlupa
kutitip pada yang Esa

baik, aku mengerti
sebab mimpi-mimpi bukan kurawat dengan ilusi
atau fantasi mustahil yang menjerat diri

kesadaran akan realita
lebih melahirkannya, nyata
selamat tinggal angkasa
aku lebih memilih berjalan laksana musafir pengelana

25 okt '10


Ayusia S. Kusuma adalah seorang dosen jurusan Hubungan Internasional di Univ. Muhammadiyah Malang. Seorang pecinta seni dan sastra sejak masih dibangku sekolah dasar.

Puisi-puisi [Fahrur Rozi Atma]

Nun

Nun, betapa kelemahanku tidak pernah sanggup
menandu cintamu, yang senyap
Lalu dalam ketidakberdayaan telah aku telentangkan
bulan sabit serta aku paku titik di atasnya

Dan. Oh, nun lihatlah lemahnya diriku
di sebelahnya, serupa joran yang kian lengkung

mengailmu



Sebuah Nama Di Tangkai Sajak

; Bundo Kanduang

Telah jauh rantau badan dari pangkuan
namun hatiku kian mukim ke jalanmu
bukit dada yang menyusuiku
lembah rahim yang menafasiku

Lepas pandang tak lagi selayang
namun sudah menerawang ke tikungan
yang telah menghantar aku sesat darimu

Lalu aku surutkan langkah
membalik arah ke tempat kau bertanam kenang
di ladang-ladang kala pagi
sampai rembang petang

untuk kepulanganku jelang malam
duhai, aku temui kerinduan merindang
pada halaman rumah yang murung
di bawahnya terserak buah nama-
namamu; Bundo

terlalu lalangkah aku darimu?

Oh, aku bersimpuh di pembaringanmu
mengunyah-kunyah bilangan jarak, untuk waktu
merapatkan pisah lewat tak berbilang
tangkai sajakku berbuah namamu



Sepisau Angin

Angin mendesaukan sepi
menjadi pisau
se-pisau-angin
melintang di leherku
sedang subuh telah pecah
oleh gaung kefakiran

Meminta syafa'atku pada suria
Usiamu masih belia! tegas penolakanya
Aku alihkan pada burung burung layang
sarangku masih lapar! tampik adalah jawabnya

Oh, pantaiku jauh, tempatku ke luas
ilalang ikut menari, hantarkan lentik kematian
di mataku: pantaskah aku menangis?
bila embun telah lebih dulu berjatuhan
membasahi tanah, tumbuhkan batubatu waktu
dipijakanku yang timpang

Perlahan lahan kian teriris urat tenggorakanku
sengau parau suaraku, berontak dari maklumat maut
bersebab lautku bukan di sini, dermaga tempat sampansampan logika
tersandar, untuk aku kayuh ke gelombang pasang
dimana aku bisa lepas dari tanya Mungkar-Nangkir

Keberadaanku di pegunungan
dengan se-pisau-angin meletakkan dingin
di apiku yang terakhir, tanpa siapa siapa
selain hati menjadi saksi

kematianku, berkabar ke tidur tidur mereka
lelap



Pijar Timur

 ; Afrilia Utami

Aku panggil kau timur yang jauh
dari mata, menggantung di angkasa
Dengan bahasa pagi
suara-suara yang meninggalkan pantai

Setelah beratus liris menggiris nadi
Ngilu mengucap namamu
Yang senantiasa bergelombang menerjang rindu
Yang aku tanam pada karang batu

sampai semua pergi membawa sepi simbol serta ramai angka-angka
berikut metafora yang berkelindan pulang
laut masih saja menaut langit sebagai paling
dari hal yang tak sampai

tak sampai, ah aku tinggalkan saja semua
lalu menuju goa-goa gunung untuk menyederhanakan huruf lantas jadi kata
semoga kau melambai

semoga, ya semoga, seperti doa
yang aku lafadz dalam kematian bahasa
dalam pandam, terendam angin
berulangkali mendiamkan semua. aku, mungkin juga kau



Rubaiyat Pagi

Dari ketinggian matahari
kita menyetubuhi bayang-bayang di ranjang waktu
Mushaf ke mushaf kehilangan cahaya
terkepung oleh bershaf-shaf hujan
yang turun dari mata
Dan di lembah Mungkar-Nangkir menghitung jarak
di puncak mana kita akan rubuh dalam rakaat terakhir
pada gentingnya temali tahiyat di antara dua mata tajam-
kata salam



Fahrur Rozi Atma. 2011-2012

Fahrur Rozi Atma:Penulis asal Pontianak ini pernah tergabung dalam Antologi Solidaritas Sastrawan Tiga rumpun Melayu [Indonesia, Malaysia dan Brunai Darussalam], Antologi Untuk Gempa Sumbar [2009], Antologi Munakat Sesayat Doa dan Antologi Kado Untuk Indonesia. 

Puisi-puisi [Kelana]

Sendiri

Kesendirian ini terasa hampa
Tanpa sebuah noda ataupun warna
Bias-bias warna yang kucari
Tak kunjung tiba

Hari terus berganti tanpa sebuah binar
Malam terus berjalan tanpa suara
Keriduanku akan dirimu terus menghantui
Mengganggu malam-malamku
Menyeruak kedalam hari-hariku
Mengembara kedalam benakku

Otakku berkelana kealam imajinasi
Mengharap engkau ada disini
Membelaiku, memelukku
mencumbuku dengan ciumanmu yang hangat
kemudian kita mengembara kealam khayal
berdua, bersama-sama kita terbang ke nirwana

tetapi yang kutemui hanyalah hampa
kehampaan yang kosong
bagaikan sebuah sumur yang tak berdasar
hanyalah lorong yang gelap dan panjang

Kucoba tuk merangkai
Serpihan-serpihan yang ada di dalam benakku
Dan kucoba tuk membentuk seraut wajahmu
Agar semua rasa rinduku terobati

Kubang. “Valentine Day”. 14 Februari 2004.


Pagi Ini

Pagi ini mendung kembali menggayut di angkasa
Kelam dan tebal menutupi sang raja langit
Seperti sebuah mitos pewayangan
Mitos yang menceritakan tentang raksasa yang sedang melahap matahari

Alam yang seharusnya terang benderang oleh senyum sang raja langit
Tetapi sekarang tampak gelap dan gulita
Seperti sebuah rongga yang tak berdasar
Yang ada hanyalah kelam

Kehidupan bagai sehelai daun yang gugur
Tak tahu akan dibawa kemana oleh sang bayu
Kehidupan bagaikan berjalan diatas mata pisau yang tajam
Tanpa beralas kaki

Kadang apa yang terjadi tak sesuai dengan apa yang terencana
Sang daun yang gugur berharap akan jatuh disebuah istana yang indah
Tetapi sang angin meniupnya sehingga jatuh disebuah sungai yang kotor
Penuh dengan segala macam kotoran yang ada dimuka bumi

Kadang aku bertanya pada Tuhan, adilkah semua ini ?
Sepadankah semua ini ?, sesuaikah semua ini ?
Tetapi Tuhan tetap diam seperti orang bisu
Aku terus bertanya dan bertanya tanpa kenal lelah dan kenal waktu

Tetapi apa yang kudapatkan
Yang kutemui hanya suara angin yang mendesau
Bisu dan kosong tanpa sebuah jawaban yang kucari
Ataukah selama ini kita salah, bahwa sebenarnya Tuhan itu tidak pernah ada?

Cherry House. 17 Nov 03. 08.00 WIB


Kelana : Seorang pemuda yang lahir dan besar di pulau Jawa danm belum pernah meninggalkan pulau Jawa. Bercita-cita memiliki sebuah grup band yang lain daripada yang lain.

Puisi-puisi [Miranti]

Jalan Jenderal Sudirman

Merdeka!

Teriak bocah itu sembari menghormati lampu merah kuning hijau yang mengatur gerak kenderaan kami sembari ia nyanyikan lagu duka.

Sementara aku sibuk mengacak laci mobilku yang mewah dan berAC, sebab lupa ke mana kubuang recehan sisa beli shampo untuk anjing penjaga rumahku.

Di bangku sebelah, istriku sendwawa dan tertawa setelah melahap bulat burger  dan meneguk sebotol besar cocacola hingga bibirnya merah, ah, ia memancing gairah, ingatan kami selalu ranjang dan desah.

12 sep 2012


Cerita Anak Dalam


Rumah kami kebun yang luas, kami memeliki macam-macam binatang, setiap pagi burung-burung menyanyi riang, monyet-monyet dari batang-ke batang bergelantungan, sungai-sungai mengandung ragam ikan, ini syurga, setidaknya menedekati syurga, atau sedikit banyak bisalah disebut seperti syurga, sebab semua serba ada dan kami tak perlu membeli apa-apa, sebelum pabrik itu ada!

13 sep 2012


Kapal


Bisakah kau temukan tepi di dadaku?

14 sep 2012


Kamarku


Aku kentut dalam kamarku yang pengap, aku jadi mengerti, beginilah rasanya orang ketika mencium kentutku, aku pun mual terhadap diriku sendiri.

14 sep 2012


Sungai


Sungai itu di musim kemarau, air yang bening dan segar, mengalir deras ke dalam pabrik, di TV kami saksikan air dari tanah negeri kami di dalam botol kemasan, bebas bakteri dan kau harus membeli!

14 sep 2012



Miranti: Gadis imut yang saat ini masih duduk di kelas 2 SMA di salah satu sekolah di Pekanbaru, ingin serius menjadi penulis, terutama dibidang puisi, aktif menulis di mading sekolah dan di beberapa portal sastra internet, telah menjadi penggemar berat puisi puisi si Burung Merak sejak pertama kali mengenal puisi.



Puisi-puisi [Mahdi Amir]

Dalam Puisi

kita bertemu
aku menjadi kau
kau menjadi aku
kita lenyap dalam aksara

Indonesia 07/09/2012



Api Dan Kayu

lidahku api
bibirmu kayu
kita asap yang membumbung
dari tungku ibu

Indonesia 07/09/2012


Kekasih

malam datang
berdentang seperti jarum jam di dinding itu
pukul tujuh tiga puluh katanya
dan di luar hujan
di dalam rinduku membara

aku tak tahu
ini gigil atau entah
jalan mana yang kau tempuh menuju rumahku?

Indonesia 07/09/2012



 


Mahdi Amir: Lahir dan besar di Indonesia, bercita-cita hingga wafat akan tetap di Indonesia.

Kondom Bocor Sobek Ujungnya: SENI DAN SASTRA UNTUK PEMBEBASAN

Kondom Bocor Sobek Ujungnya "SENI DAN SASTRA UNTUK PEMBEBASAN"

Kondom Bocor Sobek Ujungnya merupakan suatu antologi kumpulan puisi dari sepuluh orang yang sangat jauh dari sebutan penyair, karena memang kebanyakan dari mereka bukan orang-orang yang fokus dalam menekuni dunia perpuisian atau kesusastraan, namun mereka adalah orang-orng yang memeiliki keberanian yang besar untuk menulis dan mempubikasikan puisi-puisi mereka ke dalam bentuk buku yang diberi judul Kondom Bocor Sobek Ujungnya. Di mana kemudian buku ini dibagi-bagikan secara gratis baik dalam bentuk buku cetak maupun dalam format PDF yang dapat di download gratis di blog Masyarakat Gerilyawan Kota.

-Pengatar pada Kondom Bocor Sobek Ujungnya:

SENI DAN SASTRA UNTUK PEMBEBASAN

Dipungkiri atau tidak, terlepas dari teori-teori, lepas dari aturan-aturan dan terlepas dari perkembangan zaman dan peradaban, berseni bagi kami pada dasarnya adalah suatu kesenangan dan sekaligus salah satu bentuk  pembebasan atau membebaskan diri dari segala macam tekanan yang datang dari dalam maupun luar, serta adalah media penyampaian dan bahwa seni adalah milik semua orang tanpa terkecuali. Begitu pula dengan bersastra atau menulis suatu karya satra, salah satunya adalah puisi.

Misalnya Wiji Thukul dengan puisi-puisinya yang bahkan  mampu menjadi motivasi serta semangat tersendiri pada aksi-aksi kawan aktivis dan mahasiswa serta semua orang yang bergerak menentang dan meruntuhkan pemerintahan Orde Baru dengan “Hanya ada satu kawan: Lawan!” (Puisi Peringatan), atau WS. Rendra yang kemudian dikenal dengan puisi-puisi pamfletnya. William Shakespeare dengan romantismenya dan  masih banyak lagi penyair-penyair Tanah Air maupun luar dari latar belakang yang berbeda-beda yang berseni merangkai kata untuk menyampaikan sesuatu hal, baik dari dalam diri sendiri mau pun dari luar atau lingkungan sebagai makhluk sosial dengan berbagai tema, kondisi dan situasi.

Mereka adalah segelintir contoh orang-orang yang berhasil membebaskan diri, terutama untuk berseni merangkai kata atau berpuisi dan bahkan berhasil membebaskan orang lain secara
batiniah, seperti mampu memberi semangat, motivasi dan kepuasan ketika menikmati karya-karya mereka.
Lantas apa hanya penyair yang menulis puisi? Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti inilah yang terkadang membelenggu dan membatasi kreatifitas seseorang dalam berkarya, seseorang seringkali terjebak dalam pemikirannya sendiri, sebab bukan penyair maka tidak menulis puisi, sebab bukan pematung maka tidak membuat patung, sebab bukan pelukis maka tidak melukis, dan cenderung membuat batasan-batasan bagi diri sendiri. Selain itu pola pikir yang dididik dan dipengaruhi lingkungan dengan persepsi-persepsi yang terkadang memandang suatu bentuk hasil suatu karya adalah subyektif  yang sebenarnya adalah obyektif.

Dan kembali pada hakekatnya, berseni dan bersastra itu bebas, bebas memaknai dan bebas berkarya. Dari itu semua orang wajib bebas dari batasan-batasan dari dalam mau pun luar diri untuk berseni dan berkarya.
Berangkat dari pemahaman sederhana ini, kami dengan segala kekurangan dan dengan segenap keberanian serta rasa percaya diri yang mungkin sebenarnya terlalu berlebihan dan dengan keyakinan yang umum sebab yang terpenting adalah proses, maka kami memulai, maka kami berkarya, kami bebaskan diri kami, dan bersepakat untuk membukkukan kumpulan puisi-puisi kami yang kami beri judul “Kondom Bocor Sobek Ujungnya”.

Mengapa “Kondom Bocor Sobek Ujungnya”?

Begini sedikit penjelasannya : Kondom adalah alat kontrasepsi keluarga berencana yang terbuat dari karet dan pemakaiannya dilakukan dengan cara disarungkan pada kelamin laki-laki ketika akan bersenggama. Kondom di sini adalah batasan-batasan yang kami sarungkan dan kami ciptakan pada diri sendiri yang sebenarnya justru menghancurkan rencana-rencana kami, seringkali karena sangat elastisnya tanpa kami sadari telah membunuh kreatifitas kami sendiri. Sehingga alat kontrasepsi ini harus dibuka alias tidak disarungkan lagi pada kuasa nafsu kebodohan dan ketololan pada diri kami semua, yang seharusnya bebas bersenggama dengan kreatifitas dalam kehidupan kami secara berkeadilan tentu saja. Atau adalah untuk menerabas batasan-batasan dan tidak membatas-batasi diri sendiri.

Bocor adalah pertama, berlubang sehingga air dan udara dapat keluar atau masuk; atau tiris, kedua tersiar sedikit-sedikit (tentang rahasia dan sebagainya), ketiga, adalah kerap kali buang air; keempat adalah mengeluarkan darah. Dan kami tentu saja memang sengaja membocorkan atau menjadi bocor agar kami tidak sakit perut, sesak nafas dan sakit kepala dalam berkreatifitas dan menyampaikan sesuatu hal. Sehingga kami bebas dan merdeka tanpa adanya pengkotak-kotakan atau apalagi sampai memenjarakan kreasi dan agar kami terus dapat bersirkulasi dan berproses.

Sedangkan Sobek adalah cabik, robek, atau koyak. Dan Ujung yaitu bagian penghabisan, puncak, akhir atau maksud dan tujuan. Yang di sini adalah sebuah harapan atau keinginan agar dengan buku kumpulan puisi ini kami dapat turut membantu menyobek batasan-batasan pada orang lain atau dengan keinginan bisa sedikit memotivasi bahwa untuk melakukan sesuatu, terutama berkreatifitas, semua orang tanpa terkecuali memiliki hak dan kebebasan yang sama, dan itu harga mati. Titik!.

Akhirnya, menjadi penting atau tidak penjelasan ini, semoga bisa dinikmati. Jika berkenan dan berlapang dada silahkan dibaca, dikritik habis-habisan, disimpan dan disebarkan. Jika tidak berkenan, silakan buku antologi puisi ini dikilokan sebagai barang loakan, didaurulang atau setidak-tidaknya diwariskan kepada orang lain yang mungkin penasaran, meskipun akhirnya juga akan bersikap sama, sakit perut, sakit kepala dan barangkali muntah. Maka, mari berkondom bocor sobek ujungnya, berseni dan bersastra untuk pembebasan diri dan berkeadilan sosial!

                                                                                                                       MaGenTa

Umpu Prahara

 Sunset

 Bunga

 Terkurung
 
Bermain Becek

Puisi-puisi [Umpu Prahara]

Senja

Semburat senja bergayut di ufuk barat
Burung pulang ke sarang
Ombak berdebur menghantam karang
Kelapa jatuh bergelundung
Kesedihan hanyalah semu
Kesenangan adalah kesombongan
Angkuhmu adalah pertanda
Tawamu adalah malapetaka

Padang, Menjelang senja menjemput Malam
20042012

Anakku

Tidurlah anakku,
Akan kuceritakan dalam tidurmu asiknya bermain gobak sodor 
yang sekarang berganti dengan asiknya main playstation

Tidurlah anakku,
akan kuceritakan dalam dengkuru tentang bedil gedebog pisang
yang sekarang telah berganti airsoft gun

Tidurlah anakku,
Akan kuceritakan dalam mimpimu tentang mobil kayu
yang sekarang berganti dengan mobil remote control

Tidurlah anakku,
Akan uceritakan dalam igauanmu tentang tanah liat
yang telah bergantin dengan paving block

Tidurlah anakku,
Akan kuceritakan dalam harapmu tentang sebuah masa di masa lalu

yang tak pernah kau temi dimasamu kini.

Padang - Painan, 06 Agustus 2012


Menang

Memuncak sepi ditengah riuh
Kemenangan...
Kemenangan yang apa?
Kemenangan dari apa?
Kemenangan siapa?
Pesta pora yang aneh
Tangisan dikelilingi bahak tawa
Arti hilang berganti makna

Gadut, 16 Agustus 2012


Sayangku

Sayangku,
Aku tak hendak bercerita tentang indahnya hutan dan pepohonan
sebab hutan dan pepohonan telah habis dimangsa buldoser dan
menjadi lembaran kertas belajar anak bangsa

Sayangku,
Aku tak hendak bercerita tentang eloknya ikan yang berenang lincah kesana kemari 
sebab ikan-ikan telah mati di bom oleh kapal pukat harimau dan dimasukkan
dalam kaleng di supermarket

Sayangku,
Aku tak hendak bercerita tentang sawah yang luas dan padi yang menguning
sebab disawah telah tumbuh gedung tinggi dan apartemen yang mewah

Sayangku,
Aku tak hendak bercerita tentang gunung yang biru menjulang
sebab biru sudah menjadi coklat dan pohon telah menjadi korek api  

Sayangku,
Aku tak hendak bercerita tentang sunset di pantai atau sunrise di puncak gunung
sebab pantai telah menjadi tumpukan sampah dan puncak gunung telah gundul

Sayangku,
Aku hanya bisa bercerita tentang kita, tentang keindahan harapan, tentang keindahan
masa lalu, tentang masa depan, tentang aku, kamu dan anak-anak kita

Mato Air, 06 Agustus 2012


Tuhan

Aku melihat Tuhan di cermin

Gadut, 17 Agustus 2012


Kondom [Reski Kuantan]

Kondom [Reski Kuantan]
Kondom: [oleh: Reski Kuantan]

Tuhan Telah Tiada [Reski Kuantan]


Oleh: Reski kuantan

Jam di handphone saya hampir menunjukan pukul 18.15,  ketika itu hujan lebat. Di sebuah halte, bersesakkan dengan peteduh lain dan seseorang yang saya lupa bagaimana bentuk badan dan wajahnya. Seseorang itu, ia berdiri paling sudut, di kanan dari saya, melihat jauh ke arah langit, kemudian sesekali ia menunduk sembari terus terisak dan air terus mengalir dari matanya yang bening dan basah.
Saya lalu memperhatikan orang-orang di sekitar, semua gusar menunggu hujan reda dan raut-raut wajah mereka jelas kian gundah. Tak seorangpun memperhatikan seseorang yang terisak di sudut sana, kecuali saya. Mulai pertanyaan-pertanyaan dan rasa penasaran bermunculan dalam pikiran saya. Kenapa atau siapa ia? Misalnya.
Tak cukup berpikir lama, saya mendekati seseorang tersebut dan memilih untuk berdiri tepat di sampingnya dan melihat ke arah yang sama denganya. Ia sebentar melirik ke arah saya lalu kembali melihat langit.
“Tuhan telah tiada”
Samar-samar, seperti berbisik dan serak, ia bicara, entah pada siapa.
“Tuhan telah tiada”
Ia kembali bicara, lebih lantang namun tetap serak, sembari  melirik ke arah saya sebelum kemudian ia kembali melihat langit.
Saya lalu memberanikan diri menatap orang tersebut,  saya lupa bagaimana bentuk badan dan wajahnya, tapi matanya benar-benar bening, dan basah.
“Tuhan telah tiada”
 Kali ini ia bicara sembari benar-benar menatap saya, menatap mata saya. Matanya yang benar-benar bening dan basah seolah-olah hendak menerkam atau mungkin seperti hendak mencabik-cabik mata saya. Tiba-tiba perasaan saya menjadi campur aduk, iba, bingung, atau mungkin takut, atau juga mungkin saya tidak bisa  jelaskan secara detail bagaimana perasaan yang saya alami ketika itu.
Sejenak kemudian ia sangat diam sembari masih menatap mata saya sebelum kemudian kembali manatap langit.
“Lihat, itu bukan hujan, itu bukan hujan” Ia kembali bicara, samar-samar dan serak “Tapi malaikat, malaikat-malaikat di atas sana sedang berduka”. Kemudian ia kembali terdiam “Lihat, itu bukan hujan, itu bukan hujan, itu air mata duka malaikat-malaikat di atas sana, itu air mata duka. Tuhan telah tiada. Tuhan telah tiada”. Sambungnya.
Ingin rasanya saya memeluk seseorang itu, memeluk dengan erat. Tapi siapa orang ini?
“Saya bukan orang gila” katanya sembari kembali menatap tajam ke arah saya, ia seolah bisa membaca pertanyaan-pertanyaan dalam hati dan pikiran saya.
“Saya malaikat” lalu katanya “dan Tuhan telah tiada. Tuhan telah tiada”
Lalu, sejenak kembali ia terdiam dan matanya yang benar-benar bening dan basah, ah, gila, entah kenapa saya malah seperti terpengaruh dengan seseorang itu, sebelum kemudian ia kembali bicara.
“Lihat, lihat orang-orang, lihat orang-orang” suaranya begitu gemetar dan tertahan “orang-orang telah punya tuhan-tuhan baru, mereka menciptakan tuhan-tuhannya sendiri, tuhannya adalah televisi, gengsi, teknologi, uang, jabatan, kekuasaan, pekerjaan, makan, pusat perbelanjaan dan mungkin juga tulisan-tulisan, cerpen atau puisi” dan kembali menatap mata saya, sangat lekat.
Tiba-tiba kemudian saya merasa sangat dingin, basah dan, dan, dan sangat kotor. Sebuah bus kota melintas dengan kencang dan mengguyurkan air yang tergenang di pinggir jalan ke arah saya. Dalam hati saya menggerutu, mungkin kebiasaan ngelamun dan berkhayal saya yang akut sudah saatnya dibasmi. Hujan telah sejak lama kiranya reda dan bus itu adalah bus terakhir arah ke rumah, terpaksa deh saya naik ojek dan mahal!



Puisi-puisi [Arther Panther Olii]

Teratai Putih
: Arganita Widawati 


Perihal kepatuhan pada bening telaga
Kelopak-kelopak yang tak kusut berjaga-jaga
Dari kejatuhan embun yang bukan pilihan
Hati sementara menduga: Ia kah masa depan?

Nirwana di teduh mata Bunda
Angsa-angsa yang terus bernyanyi gundah
Telah lama bidadari tak datang membagi wangi
Sementara lompatan katak kian tinggi

Teratai putih o teratai putih
Dari rindu-rindu ungu Bunda
Di setiap mekarnya seutuh jiwa rasai perih
Tersering menunggu lebih baik dari sekedar menunda

Yang datang kemudian masih rerupa janji
Kemana harus lingkaran kenangan tersaji
Terus teruslah Bunda menulis puisi
Sebelum esok hadir sebagai ilusi


Manado, 04092012.


Pesan Sebutir Pasir


: Fatih Kudus Jaelani

Kepada yang menuliskanku dalam puisi. Adalah kenangan yang angin- mendera sekujur jiwaku-. Pertemuan dilekatkan senja. Ditautkan malam. Rindu yang terus menjulur mencari ujung paling sinaran.Pendaran bayangku bukanlah alasan sendiri. Diri selalu menunjuk satu bintang. Mengerjap bebuih yang terjemahkan perih. Lirih, sungguh lirih subuh berbisik pada lelap.

Sehingga diketahuilah olehmu sebuah akhir. Embun yang membaui diri, menciptakan harapan dari setiap tatapan. Dimana kau berdiri sekarang? Datanglah menepi pada kepastian. Kesiasiaan akan merajuk. Menjauhi niscaya mentari. Menarilah sepenuh peluh. Dan suluh akan rubuh di sekujur tubuhmu. Menjadi puisi. Menjadi nama yang kepadanya dilekatkan angan dan segenap rindu.

Manado, 31082012.


Kepada Aku, 2


Tentang sepi yang melarut di sepanjang tubuh waktu
Kalender yang lengser dari dinding, dari meja
Mengeja keinginan-keinginan yang dingin

Kepada aku, nama dengan aksara penuh racauan
Setelah G menjadi puisi, menemu pembaca yang mengkritisi
Maka, apalah yang hendak kumaknai dari H
Kiranya bukan penanda kehancuran

Aku, akuilah kehilangan
Warna senja yang selalu dirindu
Alamat pulang yang gegas dituju

Tentang sendiri yang menghanyutkan angan
Kenangan jadi lusuh bagi si sulung
Dimana berkibar bayang-bayang baru?
Mestinya langkah setia bersisian cahaya

Kepada aku, kepada nama yang disebut sepenuh kasih
Ibu mengerjap senyap di kedua lengannya
Berharap bukan ananda yang seharusnya rebah
Di sana, menjadi diri yang memahami tabah

Manado, Agustus 2012.


Perihal Kedatangan, Kepergian dan Rindu


: Reski Kuantan

Perihal kedatangan, sudah pernah kau katakan. Sekawanan kata hadir, lantas lembaran kertas dipenuhi puisipuisi bermakna kesetiaan. Ada tahun yang sembunyi di pulau jauh. Dan tibatiba yang membayang adalah wajahmu. Tetap bersahaja. Serupa warna senja di garis pantai kenangan.

Perihal kepergian, sudah pernah kau tuturkan. Ada lambaian tangan, lalu hembus angin membawa pesanpesan bernada kecemasan. Ada musim yang menghilang di negeri seberang. Dan sekonyongkonyong yang mencuat adalah jejakmu. Masih menghentak. Selayaknya cahaya malam di titik padang ingatan.

Perihal kepergian, perihal kedatangan adalah perihal rindu. Sudah kusalin semuanya. Kelak, kau akan membacanya, dalam sepasang mataku yang begitu tabah menampung ikhlas.

Manado, 07052012.


Arther Panther Olii: Lahir di Manado pada tanggal tujuh Agustus, senng membaca beragam buku sejak SD dan mulai menyukai puisi sejak SMP, hingga saat ini tulisan-tulisanya telah tergabung dalam berbagai Anotologi Bersama dan terbit di berbagai media cetak.

Puisi-puisi [Joey Rose]


Sajak Mabuk

...semua orang sibuk...
...aku malah ngantuk...

...semua orang suntuk...
...aku malah sumuk...

...semua orang ngamuk...
...aku malah mabuk...

Aku mabuk Engkau,
datanglah,
rengkuh aku sekarang juga!!!

Bukit Karamunting, 23082010, 12:43



Al Faiz: Dengan Subuh dan Di bawah Gerimis Aku Bersaksi
(Razaq Akbar Faiz, sebab aku selalu merindukanmu)

Al Faiz…
dengan subuh,
dan di bawah gerimis,
aku bersaksi:

Subuh adalah kesadaran
segala permulaan
rentang kehidupan
rancang kemenangan
bangun kekuatan
raih kemerdekaan.

Dengan subuh
bangunkan tubuh
sekaligus rubuh
lawan keluh
nyalakan suluh.

Refuge in the Lord of mankind
The Sovereign of mankind
The God of mankind
From the evil of the retreating whisperer
Whispers [evil] into the breasts of mankind
Among the jinn and mankind*.

Di bawah gerimis
hamburkan tangis
cinta kukais
perkuat baris
lawan iblis
tantang bengis
kezaliman terkikis

Menjadi Al Faiz.

Padang, 11 September 2011, 05.00-06.00
*Surat Annas dari Al Quran.

Untuk kedua orangtuaku, untuk istriku dan anak-anakku, untuk keluarga besarku, untuk sahabat-sahabat spiritualku, untuk kawan-kawan seperjuanganku, untuk seluruh manusia dan kemanusiaanku, dan untuk Tuhanku.





Sajak Untuk Nenek (Selamat Jalan Nek)

I
Aku bosan dengan keluhan
Takkan selesai persoalan
Sebab hidup mencari jawaban

II
Meski mati harus temukan
Titik sempurna keabadian
Satukan manusia dengan Tuhan

Padang, 14 November 2010.


Joey Rose Lahir di Ambarawa 20 mei 1980, menulis puisi sejak kecil dan saat kelas lima SD puisinya pernah dimuat di tabloid anak "Citra", dan pernah juga dimuat di antologi bersama "Dian Sastro For President!: End of Trilogy" [Februari 2005], juga Antologi bersama "Kondom Bocor Sobek Ujungnya" [Magneta Publishing] dan beberapa tulisan di media cetak lainnya.



The Simpsons [Umpu Prahara]


Setelah 18 tahun (dan terus bertambah) dari hanya bahan tertawaan di televisi, The Simpsons membuat debut layar lebar mereka The Simpsons Movie yang disutradarai oleh David Silverman, direktur animasi, sutradara, pembuat skenario dan dibantu oleh serangkaian veteran James L. Brooks, Matt Groening, Al Jean, Ian Maxtone-Graham, George Meyer, David Mirkin, Mike Reiss, Mike Scully, Matt Selman, Swartzwelder John, dan Jon Vitti. Suara cast regulars Dan Castellaneta, Julie Kavner, Nancy Cartwright, Yeardley Smith, Hank Azaria, Harry Shearer, Pamela Hayden, Tress Mac Neille dan peran masing-masing Reprise ganda untuk film ini. Juga bergabung dengan mereka adalah Albert Brooks, seorang veteran dari beberapa episode The Simpsons masa lalu. 

Cerita bertema lingkungan hidup ini difokuskan kepada Homer J. Simpson yang harus menjauhkan diri dari orang yang dicintainya dan warga Springfield karena tindakan yang bisa dibilang tindakan yang paling bodoh dalam masalah perusakan lingkungan. Film dibuka oleh konser grup band Green Day diatas danau di kota Springfield, pada saat Green Day mengajak penonton untuk menyikapi masalah lingkungan hidup karena danau tempat konser telah terpolusi, namun yang terjadi malah Green Day dilempari batu dan dianggap pengkhotbah sehingga Green Day pun mati tenggelam di danau. Melihat hal ini, Lisa Simpson tergerak dan mencoba mengetuk hati penduduk Springfiled untuk peduli terhadap lingkungan. Apa yang terjadi? Penduduk malah bersikap antipati terhadap Lisa, (bahkan ada rumah kapal yang langsung berlayar ketika Lisa mendatangi rumah tersebut). Namun akhirnya usaha Lisa berhasil dan dapat mengajak warga Springfield untuk membersihkan danau tersebut dari sampah dan limbah beracun.

Di adegan selanjutnya, Homer yang memiliki peliharaan baru yaitu babi diberi nama "Spider-Pig", kesulitan dalam membuang kotoran peliharaannya. Silo yang digunakan Homer untuk menyimpan semua kotoran hewan peliharaan kesayangannya tersebut telah penuh. Karena kebingungan Homer akhirnya membuang kotoran babi peliharannya tersebut ke dalam danau yang telah dibersihkan tersebut dan mengakibatkan danau kemudian terpolusi kembali. Dapat ditebak, Springfield kemudian mengalami bencana lingkungan yang kemudian mendorong Presiden Arnold Schwarzenegger untuk mengambil tindakan drastis. Tindakan yang dilakukan terhadap Springfield adalah dengan mengisolasi  penduduk Springfield dengan dunia luar. Tindakan ini dilakukan dengan cara memasang kubah (Dome) yang menutupi Springfield dengan alas an bahwa Springfield telah menjadi kota yang tingkat pencemarannya sangat tinggi sehingga untuk mencegah meluasnya pencemaran Springfield harus di isolasi dari dunia luar. Ini adalah akal licik dari ketua EPA Russ Cargill (disuarakan oleh Brooks) yang berencana membuat tempat wisata baru dengan menjadikan kota Springfield sebagai New Grand Canyon demi keuntungan pribadinya. Presiden, bagaimanapun, hanyalah pion dalam intrik licik ketua EPA Russ Cargill. Keputusan-keputusan yang diambil oleh Presiden selalu dipengaruhi oleh Russ Cargill.

Cerita mulai menjadi semakin menarik disini. Penduduk Springfield akhirnya menemukan bahwa Homer adalah penyebab dari nasib mengerikan yang menimpa kota. Penduduk Springfield pun mengejar Homer, namun Simpson Family berhasil melarikan diri dan menjadi buronan EPA. Simpson Family kemudian sampai harus melarikan diri ke Alaska. Di sana ia dipaksa untuk merenungkan perilakunya yang tidak bertanggungjawab dan demi menyelamatkan pernikahannya dan kotanya (Marge dan anak-anak mereka memilih untuk kembali ke Springfield karena mengetahui bahwa Springfield akan dijadikan obyek wisata oleh ketua EPA Russ Cargill). Hal tersebut yang membuat Homer akhirnya kembali ke Springfield. Setelah sampai di Springfield, Homer berusaha mencari akal untuk menyelamatkan kotanya. Dengan bergaya ala Arnold Schwarzenegger dalam film Terminator, Homer mengendarai motor Harley Davidson berboncengan dengan Bart yang membawa  bom untuk meledakkan kubah (dome) yang melingkupi Springfield.

  Springfield sebagai biosfer tercemar adalah sebuah metafora untuk planet ini, tapi film tidak pernah terjebak dalam ceramah lingkungan dan cenderung menertawakan pemerintah AS. Untuk diketahui Pemerintah AS selama ini selalu menggembar-gemborkan tentang isu lingkungan hidup, namun di sisi lain pemerintah AS sendiri tidak mau menandatangani perjanjian tentang lingkungan hidup. Selain itu, Presiden AS digambarkan sebagai seorang Presiden yang bodoh, dimana setiap kebijakan-kebijakan yang diambil olehnya selalu dipengaruhi oleh orang-orang disekelilingnya yang notabene adalah para pemilik-pemilik modal di Dunia. Kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah AS selama ini selalu dilandasi oleh penyelamatan modal-modal yang ada tanpa mempertimbangkan aspek-aspek humanisme dan lingkungan hidup. Pemerintahan AS tidak punya pemikiran sendiri untuk mengambil keputusan, cenderung lebih dipengaruhi orang-orang yang membuat kebijakan demi keuntungan bisnisnya.
 

-

Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Media Seni dan Sastra Online - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger